Audrey, Sosok Calon Menteri Termuda Jokowi. Siapa Dia?


Teka-teki susunan kabinet Presiden terpilih Joko Widodo kini ramai diperbincangkan. Salah satunya menyangkut sosok-sosok muda yang kemungkinan akan direkrut Presiden terpilih untuk mengisi gerbong kabinetnya. 

Banyak tokoh muda yang sudah muncul meramaikan bursa calon pembantu presiden, baik dikenal melalui kiprahnya selama ini atau dimunculkan tokoh di belakangnya. 

Nama Audrey Yu Jia Hui seperti ditulis pojoksatu.id patut dipertimbangkan untuk menjadi bagian kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin. Namanya mendadak jadi perhatian publik. Gadis cantik berusia 25 tahun itu disulkan menjadi salah satu menteri di kabinet Joko Widodo – Ma’ruf Amin.

Jika usulan itu diterima, maka salah satu dari 72 Ikon Berprestasi Indonesia yang dinobatkan dalam Festival Prestasi Indonesia itu akan menjadi menteri termuda.

“Audrey, calon menteri termuda yang cinta mati kepada Indonesia,” kata akun Twitter Aditya Wisnu, pengusung Audrey sebagai nominasi menteri milenial Jokowi, Minggu (7/7/2019).

Audrey Yu Jia Hui disebut-sebut sebagai sosok yang super jenius. Pasalnya, gadis asal Surabaya Jawa Timur itu menempuh pendidikan formal dengan cukup singkat.

Wanita kelahiran 1 Mei 1988 ini hanya menjalani jenjang pendidikan sekolah dasar selama 5 tahun. Sedangkan jenjang SMP dilalui hanya dalam tempo satu tahun dan SMA hanya 11 bulan. Ia lulus SMA saat usianya baru 13 tahun.

Saat mendaftar ke sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, tak satu pun yang mau terima lantaran usianya masih belia. Akhirnya Audrey memutuskan hijrah ke Amerika Serikat untuk kuliah.

Ia mulai kuliah di The College of Wiliam and Mary, Virginia jurusan Fisika saat usia 16 tahun.
Yang cukup mencengangkan, Audrey lulus di salah satu universitas terbaik di AS itu dengan nilai sempurna alias summa cum laude.

Siapa Audrey Yu Jia Hui?

Mengenal sosoknya bisa ditelusuri dari sebuah laman yang dimilikinya, yang menjadi sarana baginya menumpahkan seluruh isi hatinya, yakni audreyyujiahui.com.

Dalam salah satu tulisan, Audrey mengakui bahwa kejeniusan yang dimilikinya membawanya dalam kondisi yang cukup tak mengenakkan.

“Saya mengalami kemalangan bahwa dilahirkan sebagai anak ajaib di negara yang sangat mengecilkan pemikiran kritis, di mana warga negara pada umumnya tidak suka berpikir terlalu dalam,” tulisnya.

Saat masih TK, ia mengaku sudah mulai mempertanyakan makna hidup yang kenyataannya, malah membuat orang-orang di sekitarnya ketakutan.

“Jadi saya harus berpura-pura tidak berpikir, seperti yang diharapkan orang, sementara diam-diam menyimpan semua pertanyaan di dalam hati saya,” lanjutnya.

Bahkan, di usia kanak-kanak itu, enam tahun tepatnya, menjadi kali pertama ia tertarik mempelajari propaganda nasional dan ideologi negara. Saat itu pula, ia mengaku menjadi momen dirinya merasa jatuh cinta dengan Pancasila, dasar negara Indonesia.

“Saat itulah diam-diam mencoba memahami makna hidup dan kebahagiaan, dan karenanya saya langsung jatuh cinta pada ideologi nasional negara saya (Pancasila),” beber dia.

 Kecintaa terhadap Pancasila itu pula yang kemudian membuat rasa patriotisme di dadanya makin membara. Tapi lagi-lagi, ia harus memendam hal itu sangat dalam.

“Saya juga jatuh cinta pada patriotisme di negara di mana patriotisme sering dianggap palsu, sebagai kepura-puraan belaka,” katanya.

Ia pun sangat menyayangkan perilaku orang Indonesia yang seperti enggan membedakan antara orang Indonesia keturunan Tionghoa, budaya Tionghoa, orang yang lahir dan besar di Tiongkok.

“Serta evolusi ideologi Marxis (misal: perbedaan antara Korea Utara dan Marxisme Cina kontemporer). Jadi saya selalu (menjadi) orang luar, tidak pernah dipahami, selalu harus berpura-pura demi kehormatan keluarga saya,” bebernya.

Dengan ‘pengasingan’ masyarakat yang diterimanya, ditambah keterpaksaan untuk selalu menyembunyikan kecintaannya kepada bangsa Indonesia dan seluruh ideologinya, ia pun memilih study-nya sebagai satu-satunya pelarian.

“Dalam kehidupan tanpa hubungan manusia yang tulus (bukan karena kurangnya upaya saya; rekan senegara saya tidak bisa memahami ide-ide saya), belajar (study) adalah satu-satunya kesenangan saya,” tulisnya.

Usai menggenggam gelar sarjana, Audrey juga memiilki keinginan yang tak biasa selayaknya gadis keturanan lainnya. Audrey ingin menjadi anggota TNI. Sayangnya, keinginan kuat itu malah mendapatkan banyak penolakan sekaligus pelecehan ras.

“Saya menjadi beban cemoohan dan ancaman dari semua pihak (bahkan dari keluarga saya sendiri), serta pelecehan ras yang tak ada habisnya,” tuturnya.

Hal itu lantas menbuatnya depresi yang kemudian dituangkannya ke dalam delapan buku yang berhubungan dengan identitas nasional Indonesia. Bahkan, tiga buka diantaranya telah diarsipkan oleh berbagai lembaga di seluruh dunia.

“Termasuk Perpustakaan Universitas Harvard, Perpustakaan Kongres Nasional, Perpustakaan Nasional Australia, Universitas Leiden, Universitas Melbourne, Universitas Yale, Universitas Cornell, UC-Berkeley dan banyak lainnya,” beber Audrey.

Kendati demikian, bukan berarti Audrey lepas dari permasalahannya selama ini, yakni identitasnya sebagai warga keturunan Tionghoa. Pelecehan serupa juga didapatkannya dari berbagai pemimpin agama. Hal itu terjadi lantaran ia tengah dalam masa pencarian akan agama di awal kehidupan.

“Di negara di mana nasionalisme hanya sedalam kulit, para pemimpin agama memegang banyak kekuasaan, dan banyak dari mereka (sayangnya) tidak dapat menangani kekuatan itu dengan baik,” tulisnya.

Sejak Juli 2014 lalu, Audrey mengajar di sejumlah lembaga pendidikan di Tiongkok seperti Shanghai Jiaotong University, DS Education, dan U-Elite Shanghai untuk mengajarkan sastra Inggris. “Saya telah bekerja di berbagai tempat, dan mulai menetap di Shanghai sejak Maret 2015,” ucapnya.

Menurutnya, hidup di RRC memiliki tantangan secara fisik. Akan tetapi, disana, sangat baik bagi dirinya. “Sebab di sini hampir semua orang mampu mengerti patriotisme dan idealisme saya! Tidak ada yang menganggap saya ‘sinting’ atau ‘aneh’,” katanya.

Namun, hidup di negeri orang bukan berarti cinta dan patriotismenya kepada Tanah Air luntur. Sebaliknya, cintanya semakin berkobar. “Dan cinta saya pada Pancasila justru semakin berkobar setelah sekian lama di luar negeri,” tulisnya di laman blog patriot-bangsa.org.

Saat ini, Audrey sudah berusia 31 tahun. Pada tahun 2017 lalu, ia dinobatkan sebagai salah satu dari 71 ikon Prestasi Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed with by Way2themes | Distributed by Blogspot Themes